Minggu, Februari 27, 2011

sesal di sela isyarat kematian

di tepi jendela sore ini aku merenung
menghitung satu persatu sisa nafas yang ku hembuskan
menilik kembali jejak waktu yang berlalu

mengingat kembali pada suatu masa dikala
sajak sajak Tuhan yang ku lupakan di setiap manuskrip harian
panggilan sayup sayup dari sang muadzin yang tersamarkan oleh hingar bingar kemerlap dunia
teguran Tuhan atas kelalaian yang selalu tak teracuhkan
lalu yang mereka sebut tiang agama tak setiap waktu ku dirikan

makhluk Tuhan macam apa aku ini
mengingat Nya ketika isyarat kematian sudah di ujung kepala
mengucapkan lafaz istigfar di sela jantung yang mulai melemah
MAAFKAN aku TUHAN ...
begitu jauh aku berpaling dari kodrat manusia yang hakiki menyembah pada MU

butiran air mata kini mengalir di sela sujud serta ketika menyebut asma Mu
menyesali perputaran sang waktu yang tak bisa dilawan
kembali ke pangkuan MU dikala jiwa sangat bernoda
masihkah aku bisa menggapai tempat disamping MU , Tuhan ?

2 komentar:

kang e'best mengatakan...

keren, tp mudahan di aplikasikan dalam kehidupan

witherLily mengatakan...

hehehe :D